 | Welcome | Jul 30, 2007 |
Welcome to my humble blog but dont worry, this blog will growin each day
Mau menjadi pembuat film/video artinya mau menjadi seorang pendongeng. Tapi tidak semua orang mampu menjadi pendongeng yang baik, meskipun hampir semua pada dasarnya senang didongengi. Melalui dongeng dunia hadir dihadapan kita dan melalui dongeng pula peradaban kita kembangkan. Dongeng adalah perekat pewarisan budaya, diteruskan melalui tradisi, sejarah, kebiasaan-kebiasaan sosial. Makna dan tujuan hidup juga terberikan lewat dongeng, begitu halnya dengan heroisme, kepemimpinan, tanggungjawab, cinta atau nilai-nilai ideal lain yang menjadi panduan hidup kita. Semua dongeng selain sering menjadi obyek pujian masyarakat, tapi sebaliknya pada saat yang sama juga menjadi obyek cercaan. Simaklah apa yang tersaja di media sebagai produser dongeng, nyaris tidak banyak yang berubah. Menjadi seorang penulis skenario sebagian besar lebih merupakan hasil belajar sendiri. Hal terbaik untuk belajar bagaimana menulis skenario Cuma bisa dicapai dengan meleburkan diri secara total dengan dunia film. Namun sebagai pemula, mungkin ada baiknya untuk melakukan beberapa hal berikut. Nonton film sebanyak dan sesering mungkin Membahas apa film yang sudah ditonton dengan orang lain Membiasakan membaca review film di media-media Menyempatkan diri menyempatkan skenario film dan mencoba mengkritisinya Bagaimana respon kamu terhadap film-film yang pernah anda saksikan, mengapa kamu beranggapan bahwa film yang satu lebih mudah anda pahami sementara yang lain tidak Perhatikan perkembangan karakter, alur cerita, pengembangan scene, segmen dan dialognya Coba pahami apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh si penulis skenario terhadap kamu sebagai audien Kalau anda sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti disebutkan di atas, maka anda sebenarnya sudah cukup modal untuk memulai proyek film anda sendiri, dengan terlebih dahulu mempersiapkan skenarionya. Good Luck!
Pandanglah bintang diangkasa Kecil nun jauh disana tapi bisa melengkapi indahnya malam Bisakah kau ambilkan satu untukku Ku ingin menyimpannya dalam toples kaca yang akan menerangi gelapnya tidur atau untuk menandingi indahnya kelip kunang-kunang di padang rumput Andai kau tak bisa mengambilnya Ku ingin kau menyanyikan sebuah lagu untukku Yang kan kau akhiri dengan senyum manismu
Aku kacau bila memandangmu runtuh bila kau memandangku remuk bila mendengar suaramu rusak bila mencium wangimu pecah bila menyentuhmu Aku mati jika kau membunuhku
Aku Pengemis
Aku hidup dari mengemis Mengemisi hidupku yang tak pernah manis Hidup hilang bagai ditelan awan Seperti pula embun yang menguap Aku hidup dari mengemis Mengemis dari kehidupan melataku Mendesis perlahan dan dibenci Yang hilang bila dipandang dan tak muncul bila ditunggu
 | Muzik 3 | Jan 18, '08 5:44 AM for everyone |
| Kopi Dangdut | | | | Jepang Version | | | Malioboro | | | | all artist | |
Cerita Buah
Buah yang jatuh itu menamakan dirinya aku yang tak lama lagi akan terijak atau tertendang atau dimakan atau hanya dipandang atau diacuhkan atau terhempas atau terbuang atau membusuk atau tumbuh menjadi pohon yang akan memberikan buah di sekitarnya
AKU KAMU
Mengapa kau bersedih? Tak usahlah kau meracau Tutup mulutmu yang bau sampah itu Sumpah serapah manis mulutmu tak ada artinya Mengapa kau marah? Kau memang ular Tanpa lidah kau mendesis Pergi dari sini Keberadaanmu tak ada artinya Kenapa kamu begitu? Aku begitu karenamu
Mati
Tangan kosong mendekap hampa Menggapai asa tak kunjung datang Diam diri menunggu ajal Tubuh tua tanpa gentar
Hilang ingatan akan masa Mulut kering tanpa rasa Nafas dada tertindih batu
Teringat dosa Mata tertutup
Mati
| Category: | Books | | Genre: | Reference | | Author: | Iwan Awaluddin Yusuf |
Kematian, sejak dulu danggap tabu untuk dibicarakan. Kematian didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat sakral-trasedental, hanya boleh dipandang dari dimensi religius. Namun kematian ternyata memunculkan sebuah budaya baru, yaitu Necrocultura.
Buku dengan judul yang kelewat panjang ini sangat menarik untuk dibaca karena berhasil menyajikan sesuatu yang sebenarnya sering dilihat dan dibaca, namun kebanyakan orang mengabaikannya, seolah-olah tiada arti, yaitu iklan kematian. Iklan yang seringkali berasosiatif tentang produk, konsumerisme dan segala hal yang berkaitan dengan konsumen, ternyata digunakan pula oleh etnik Tionghoa untuk menunjukkan identitasnya. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak bisa mengungkapkan ekspresinya di tempat lain karena adanya berbagai peraturan pemerintah Orde Baru yang mendiskriminasinya.
Buku ini lahir dari hasil penelitian akademis yang dilakukan oleh penulis saat menyelesaikan ujian skripsi. Pendekatan kualitatif yang digunakan pada buku ini adalah pendekatan kualitatif yang tidak kaku, sehingga kadang ditampilkan data kuantitatif berisi angka-angka statistik sederhana. Hal itu setelah melihat konteks permasalahan yang diangkat, terutama menyangkut bagaimana ekonomi-politik media yang berwujud instrumen angka matematis mempengaruhi representasi identitas budaya minoritas etnik Tionghoa dalam iklan dukacita. Penelitian ini tidak hanya meneliti tampilan visual identitas etnik Tionghoa yang ada dalam iklan dukacita, tetapi juga pada proses pembentukan representasi tersebut.
Lewat iklan dukacita, kematian dicitrakan sebagai penghormatan atas kematian. Informasi kematian yang ditampilkan ternyata membawa simbol-simbol tertentu. Simbol-simbol tersebut lama-kelamaan mengalami pergeseran makna, bukan lagi sebagai penanda meninggalnya anggota keluarga namun digunakan untuk memperkuat status dan identitas budaya etnik Tionghoa yang dalam sejarahnya di Indonesia selalu ditekan pihak yang berkuasa.
Hal penting lain adalah signifikansi perubahan yang cukup nyata berhubungan dengan kejadian reformasi. Hal itu tampak pada penggunaan huruf cina pada iklan dukacita yang pada masa Orde Baru sama sekali dilarang penggunaannya. Selain itu agama Konghucu yang sebelumnya tidak diakui, akhirnya mulai ditampilkan, meski terbatas pada passive points iklan.
Dari paparan yang disampaikan buku ini, kiranya dapat diperoleh gambaran tentang bagaimana dinamika pencarian identitas etnik Tionghoa di Indonesia melalui iklan dukacita. Mereka memanfaatkan nilai sakral kematian untuk meneguhkan status sosial dalam masyarakat.
Selain mengungkap makna yang tersembunyi di balik iklan dukacita etnik Tionghoa, buku ini juga menyajikan berbagai hal yang berkaitan dengan etnik Tionghoa baik asal mula di Indonesia, sejarah dimusuhi oleh bangsa Indonesia, diskriminasi yang mereka dapatkan, dan berbagai kebudayaan beserta simbol-simbol yang mereka miliki, terutama menyangkut upacara kematian.
Buku ini sebenarnya tidak berat tetapi juga tidak ringan. Penggunaan bahasa yang komunikatif memudahkan kita untuk lebih memahami buku hasil penelitian ini. Namun penggunaan judul yang sangat panjang dan sampul buku yang hitam dan tidak menarik mengesankan bahwa buku ini sebagai bacaan berat. Terlepas dari kekurangannya, buku ini patut untuk dibaca oleh berbagai kalangan. Buku ini penting dibaca oleh mahasiswa, dosen, peneliti, bahkan bagi orang Tionghoa sendiri karena banyak mengungkap makna simbolik yang sebelumnya belum terungkap.
 | Muzik 2 | Jan 12, '08 9:43 AM for everyone |
Air Gear Original Soundtrack 2 - WHO WANTS MORE GROOVY TRICK!! | RISE ELECTRIC | | Air Gear Original Soundtrack 2 - WHO WANTS MORE GROOVY TRICK!!?? | | Skankfunk | | | CHAIN [MAGNIFICENTRAL MIX] | | Air Gear Original Soundtrack 2 - WHO WANTS MORE GROOVY TRICK!!?? | | Skankfunk | | | CHAIN [ROCKIN' 8 GLIDER MIX] | | Air Gear Original Soundtrack 2 - WHO WANTS MORE GROOVY TRICK!!?? | | Skankfunk | |
Pemerintah vs Pasar
Selama ini kekuasaan penyiaran di Indonesia lebih terpusat di Jakarta. Dari Orde Baru dengan TVRI nya hingga para pemilik modal dengan berbagai stasiun televisinya. Pada zaman Orde Baru pemerintah memegang kontrol penuh atas segala bentuk media massa yang legal beredar. Orang seperti mantan presiden Soeharto sadar betul akan potensi media, sehingga di bawah kekuasaannya Tempo dibreidel, Detik ditutup, PWI dijadikan organisasi kewartawanan tunggal, stasiun radio tidak boleh menyiarkan berita, wartawan pembangkang dipecat, disiksa, dan bahkan dibunuh. TVRI adalah mesin propaganda pemerintah yang mendoktrinasikan pesan-pesan tunggal bagi masyarakat Indonesia. Ketika di tahun 1970an, TVRI tumbuh menjadi sebuah lembaga penyiaran yang independen dan populer di mata masyarakat, pemerintah dengan segera mengubahnya menjadi sebuah lembaga propaganda keberhasilan pemerintah seraya menyisihkan setiap bentuk suara yang berbeda dengan pandangan pemerintah. Di TVRI tidak ada berita buruk mengenai pemerintah dan pembangunan. Saat pemilihan umum, TVRI adalah media propaganda partai berkuasa, Golkar. Media yang berkuasa Lain dulu lain sekarang. Pertelevisian Indonesia kini dikuasai oleh para pemodal. Runtuhnya Orde Baru dan datangnya era Reformasi menjanjikan masa depan yang cerah bagi dunia media di Indonesia, ditambah lagi dengan adanya UU No.40 tahun 1999 tentang pers. Alhasil adalah munculnya berbagai stasiun televisi swasta nasional yang saat ini mencapai 10 buah dan kesemuanya berada di Jakarta. Jumlah tersebut mengakibatkan tidak terciptanya keragaman program di bidang penyiaran TV, karena televisi swasta yang jumlahnya besar menganggap publik sebagai konsumen, bukan sebagai warga bangsa (citizen). Politik rating menjadi acuan utama dalam penentuan program siaran. Program-program siaran bodoh tanpa ada fungsi pendidikan menjadi komoditas utama dalam pertelevisian sekarang ini. Ketika stasiun televisi akan membuat sebuah program tayangan, mereka tidak didasarkan atas hasil riset khalayak yang memadai, melainkan atas kecenderungan yang sedang trend saat itu. Sudah menjadi pemandangan umum kita saksikan di layar kaca, jika tayangan kriminal lagi naik daun, hampir semua televisi berlomba "berdarah-darah." Ketika tayangan televisi bernuansa seksualitas mendapat rating yang bagus, seluruh stasiun televisi ramai-ramai menayangkan talkshow dan sinetron komedi soal seks. Dan ketika tayangan bergeser ke arah mistis, hampir semua stasiun televisi pun berjualan "siksa kubur." Kondisi demikian tentu saja sangat memprihatinkan, karena publik tak punya kesempatan untuk menikmati keberagaman isi siaran televisi. Penguasaan di Jakarta ini diperparah dengan adanya akuisisi berbagai stasiun TV ke dalam suatu wadah. Saat ini, yang jelas-jelas mengelompok adalah RCTI, Global dan TPI di bawah payung MNC. Kemudian, bila benar kabar yang sudah lama terdengar bahwa yang berada di belakang Chairul Tanjung adalah kelompok Salim, maka grup kedua adalah Indosiar, Trans TV dan TV-7. Grup ketiga adalah LaTV dan ANTV yang berkait pula dengan konglomerat media gobal, News Corp. Baru kemudian ada SCTV yang terkait dengan kelompok media internasional Singleton, serta Metro TV yang sepenuhnya independen. Implikasi keadaan ini sangat serius dan dapat dibagi menjadi dua faktor, yakni faktor sosial dan ekonomi. Secara sosial, Jakarta mendikte isi siaran sesuai dengan selera Jakarta. Rujukan nilai isi siaran televisi adalah standar budaya Jakarta yang belum tentu sesuai dengan budaya lokal. Disamping itu, masyarakat daerah sama sekali tidak dapat memanfaatkan televisi sebagai sarana informasi mengenai daerahnya sendiri. Secara ekonomi, sistem sentralistik bisa saja menghancurkan potensi ekonomi lokal. Segenap keuntungan ekonomi yang diperoleh dari kegiatan pertelevisian hanya bisa dinikmati oleh Jakarta. Karena dalam sistem yang berlaku saat ini, semua pengiklan harus membayar ke stasiun nasional di Jakarta tanpa ada sedikit pun uang yang mengalir ke daerah. Tragisnya lagi, para pengiklan di daerah pun lebih tertarik untuk pergi ke Jakarta, jika ingin berkampanye melalui televisi. Tidak ada peluang bagi daerah untuk mengembangkan stasiun televisi, rumah produksi, biro iklan, lembaga pendidikan untuk SDM televisi, dan beragam lembaga ekonomi yang merupakan bagian dari industri pendukung televisi Berebut kekuasaan Pemerintah tampaknya terbayang-bayang oleh kekuasaan masa lalu atas media. Segala daya dan upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menguasai media. Langkah pertama adalah pembentukan kembali Departemen Penerangan ala era Reformasi, yakni Departemen Komunikasi dan Informasi. Pembentukan ini ditentang keras oleh para penggiat pertelevisian di Indonesia Langkah kedua yang dilakukan pemerintah adalah dengan mengeluarkan UU no. 32 tahun 2002. UU tersebut, memuat pasal-pasal yang mendorong terjadinya demokratisasi penyiaran. UU ini memperkenalkan gagasan tentang adanya sebuah lembaga pengatur penyiaran independen, Komisi Penyiaran Indonesia. KPI, menurut UU, dipilih dan bertanggungjawab kepada DPR dan keanggotaannya berasal dari mereka yang diharapkan tidak mewakili kepentingan industri penyiaran, pemerintah, ataupun partai politik. Keberadaan UU tersebut tak ayal membuat para pemilik modal menjadi ketar-ketir. Mereka khawatir pendapatan mereka akan turun. Hal ini dapat dilihat dengan kasus Smackdown yang memiliki rating tinggi namun dilarang disiarkan oleh KPI. Disamping itu jumlah belanja iklan untuk televisi terus meningkat signifikan dari tahun ke tahun, mencapai belasan triliun rupiah. Namun segenap belanja tersebut hanya diserap oleh Jakarta. Pengiklan hanya perlu membayar stasiun televisi di Jakarta untuk kepentingan pemasaran produknya, tanpa perlu sedikit pun mengucurkan uang kepada daerah-daerah di luar Jakarta yang dijadikan sasaran penjualannya. Sehingga, apabila UU tersebut dijalankan maka pendapatan mereka akan berkurang drastis. Siapa yang menang? Kesepahaman antar kedua belah pihak tampaknya tidak akan pernah terjadi, sehingga perebutan kekuasaan pasti berlangsung terus. Ishadi SK dalam artikelnya yang berjudul KPI, Regulasi Siaran TV dan Radio (Kompas, 9 Februari 2007) menulis UU Penyiaran yang merupakan landasan kerja KPI melihat industri penyiaran sebagai monster, anak kandung kapitalisme yang serakah—hanya mengejar keuntungan—tidak bermoral, dan mementingkan kepentingan pusat pemerintahan Jakarta. Karena itu, harus "direduksi" dengan menetapkan tidak ada televisi nasional. Harus dikembangkan televisi lokal di seluruh wilayah, harus ada televisi publik dan komunitas. Di pihak lain televisi nasional berpendapat, televisi adalah bisnis yang harus berkembang secara baik, berkompetisi secara sehat, dan tumbuh menjadi televisi yang berkualitas, profesional, bermutu, enak ditonton dan mampu bersaing melawan ratusan televisi luar yang leluasa merambah dan masuk ke rumah. Industri televisi berpendapat, mereka harus diberi kesempatan berkembang secara bisnis agar mampu meningkatkan kualitas penyiaran dan menjadi perangkat kontrol yang efektif. Sedangkan KPI yang merupakan lembaga kontrol—yang harus ada dalam sistem check and balance demokrasi—merasa mempunyai kewenangan absolut mengatur televisi menurut kriteria dan seleranya sendiri. Terlebih lagi sembilan anggota yang dipilih periode lalu seluruhnya dari dunia akademi yang sarat pemikiran idealisme kampus. Oleh industri televisi, KPI dianggap "monster" yang menakutkan.
Sebuah trailer (kayaknya) film animasi, cukup lucu dan menghibur
Download this and other original video files with Multiply Premium. VIRTUAL IDENTITY
Cyberspace, sekarang bukan hanya menjadi sebuah tempat data untuk menetap dan berlalu lalang. Namun kini telah tumbuh menjadi sebuah tempat yang berbudaya dan berperadaban. Dalam kajian budaya, cyberspace didekati melalui kritik yang lebih luas (semua ini bisa dimasukkan dalam ranah kajian cyberculture), yang meliputi aspek-aspek sosial, ekonomi, dan aspek ideologi politik dari cyberspace. Sherry Turkle mungkin bisa disebut sebagai pelopor kajian cyberculture dalam kajian budaya. Ia sudah mulai meneliti hubungan antara manusia, komputer, dan kepribadian sejak awal ‘80-an. Dalam buku mutakhirnya, Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet (1995) ia mengatakan bahwa dulu komputer merupakan metanaratif modernisme yang terbesar, komputer adalah kisah bagaimana pekerjaan dibuat menjadi lebih ringkas dan menarik. Sekarang, di era postmodern, dengan komputer yang mampu menciptakan "budaya simulasi", konstruksi ideologi modernisme tentang komputer mulai bergeser. Komputer bahkan memberikan jalan untuk berpikir lebih konkret tentang krisis identitas. IDENTITAS VIRTUAL Face-to-face meetings, and even telephone conversations, involuntarily reveal crucial aspects of identity such as gender, age, and race. However, these bits of identity are completely masked by computer-mediated communications; all that is revealed is what we choose to reveal -- and then only if we choose to tell the truth. The rise of computer-mediated communications is giving people the means to try on alternative personae -- in a sense, to reinvent themselves -- which, as Stone compellingly argues, has both positive and potentially destructive implications. Ketika kita masuk ke dalam cyberspace, konsep self yang mengikat kita di dunia nyata menjadi buyar. Menurut Judith S. Donath dalam papernya yang berjudul Identity and Deception in the Virtual Community, identitas di dunia nyata menganut satu paham yaitu “satu tubuh satu identitas”. Meskipun diri (self) tersebut mungkin kompleks dan berubah-ubah seiring perkembangan waktu, adanya faktor satu tubuh memberikan sebuah ketetapan bahwa diri (self) selalu terpatri ke dalam tubuh tersebut. Lain halnya dengan cyberspace. Cyberspace merupakan sekumpulan informasi yang menyebar dan menghilang. Begitu pula dengan para penghuninya, menyebar dan menghilang. Tidak memiliki sebuah pengikat untuk meletakkannya pada satu tubuh. Sehingga satu orang dapat memiliki identitas sebanyak-banyaknya asalkan masih ada waktu dan tenaga untuk membuatnya. Identitas dalam cyberspace merupakan sesuatu yang ambigu. Keambiguan tersebut disebabkan oleh identitas asli user tertutupi oleh layar computer. Umur, jenis kelamin, ras merupakan barang yang tak berarti di hadapan Computer-Mediated Communication. CMC memberikan kesempatan para user untuk mengekspresikan dirinya melalui berbagai cara yang berbeda. Kita bisa mengubah style secara minimum ataupun dengan cara gila-gilaan, seperti mengubah umur, sejarah hidup, kepribadian, tampilan fisik, bahkan jenis kelamin. John Suler, Ph.D pernah menulis sebuah hipotesa, yang berjudul Hypotheses about Online Text Relationships, yang mengatakan bahwa ketika seseorang login dalam sebuah cyberspace, mereka dianggap, sadar atau tidak sadar, memasuki ruang psikologi mereka. Efek anonymity merupakan efek terbesar dalam cyberspace. Kebebasan membuat identitas baru tanpa perlu takut diketahui identitas aslinya menimbulkan berbagai efek. Ada beberapa aspek psikologi yang penting ketika seseorang menampilkan identitas online mereka, yaitu: 1. Efek ke-tidaksegan-an. Mereka bisa menunjukan sisi lain dari karakter mereka yang secara normal akan tersembunyi dengan baik dalam kehidupan nyata mereka. Mereka mungkin akan berbagi rahasia, emosi, atau hal-hal lain yang tidak “normal” mereka lakukan dalam kehidupan nyata, dan semua itu dilakukan tanpa segan-segan 2. “Tidak dikenal”. Kebanyakan, mereka akan menciptakan karakter yang sama sekali tidak dikenal, menggunakan nama-nama yang “tidak nyata” disertai deretan angka yang sama sekali sulit dipahami maknanya, yang memungkinkan secara karakter sama sekali berbeda dengan karakter nyata mereka. 3. Efek “tidak terkalahkan”. Efek yang menyebabkan seseorang merasa bebas untuk menjadi siapapun yang mereka inginkan. Seperti halnya orang lain melakukan padanya, yang sama-sama percaya bahwa kebebasan emosi sangat memungkinkan disana. Meskipun anonimitas merupakan efek terbesar, namun user tetap memiliki kebebasan untuk menggunakan identitas palsu atau identitas asli mereka. Namun dalam beberapa kasus, identitas asli harus digunakan, seperti saat berbelanja dan bertransaksi online dengan pihak resmi (toko online, bank, dsb). Selain itu ada pula berbagai forum yang diwajibkan menggunakan identitas aslinya dalam setiap forum di dalamnya, salah satunya adalah WELL. Cyberspace juga memungkinkan kita untuk bermain berbagai peran secara bersamaan. Pembuatan identitas virtual memungkinkan seseorang untuk mengganti dan merubah karakter mereka selama di cyberspace, mereka bisa melakukan “peran” sosial yang secara “normal” tidak bisa mereka lakukan dalam kehidupan nyata. Dalam cyberspace tidak ada batasan norma-norma yang berlaku di dunia nyata, seperti latar belakang sosial, hukum, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Kita bisa saja berperan sebagai anak kecil, ibu rumah tangga, direktur, dsb tanpa perlu takut kehabisan stok identitas. Gugur satu tumbuh seribu. Kalau bosan dengan satu identitas buat seribu identitas baru. Proses bermain dengan identitas membawa efek yang positif secara psikologis, dimana hal itu bisa memberikan “kesempatan” padanya untuk bisa meng-aktualisasikan karakter mereka yang “terpendam” dalam kehidupan nyata yang bisa jadi dikarenakan oleh berbagai aspek seperti yang telah disebutkan di atas. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Turkle. Menurut Turkle, proses playing out different aspects of self di Internet menciptakan a sense of psychological maturity that has to do with flexible transitions between aspects of the self and discovering different aspects of yourself on-line. Lebih lanjut lagi dia berpendapat bahwa hal ini dilakukan bukan untuk memecah kepribadian kita tetapi untuk menciptakan sebuah kemampuan untuk flexible terhadap berbagai identitas yang telah diciptakan dan untuk seeing yourself more as a multiplicity than a one. Hal tersebut dikuatkan pula oleh Rutter dan Smith yang berpendapat bahwa orang-orang menggunakan Internet untuk memperluas dan memperkaya hidup mereka. Proses pembentukan kesan dalam cyberspace, hampir sama dengan proses pembentukan kesan di dunia nyata. Sama-sama dibentuk dalam sebuah komunitas, namun yang membedakan antara keduanya hanyalah media yang digunakan untuk tranmisi pesan. Menurut Erving Goffman ada 4 syarat pengelolaan kesan yang baik, yaitu tampilan muka, keterlibatan dalam peran, wujudkan idealisasi harapan orang lain tentangnya dan mystification. Howard Rheingold dalam bukunya Virtual Community menyebutkan bahwa para member WELL berlomba-lomba untuk menyajikan solusi yang paling tepat untuk berbagai permasalahan yang ditanyakan dalam forum. Member yang berhasil memberikan solusi yang paling tepat akan mendapat reward berupa kepercayaan anggota forum yang lain, yang secara otomatis menaikkan status sosial dalam forum tersebut. Berbicara mengenai identitas virtual tentunya tidak terlepas dari pembicaraan sisi positif dan negatif identitas virtual. Hal tersebut merupakan sebuah perdebatan yang tak berujung. Namun Sherry Turkle dalam tulisannya yang berjudul Who Am We, telah menunjukkan berbagai sisi positif maupun negatifnya melalui berbagai studi kasus yang ia temukan. Selain itu hal yang sama juga dikemukakan oleh para ahli lain seperti Judith S. Donath dalam tulisannya yang berjudul Identity and Deception in Virtual Community. Positif dan negatif merupakan sesuatu yang subjektif. Segala keputusan ada di tangan tiap individu. Namun satu hal yang jelas adalah: semua orang dapat merasa senang, bersalah, takut, jengkel dan malu terhadap perlakuan yang didapat oleh identitas mereka, baik virtual maupun nyata. Topik penting yang lain dari hal ini, yang seringpula didiskusikan di internet, ketika membicarakan tentang identitas virtual dan psikologi sosial adalah banyak sekali orang-orang yang kehilangan sense of reality mereka. Ketika mereka membuat diri mereka sendiri yang “baru”, banyak sekali dari mereka yang lupa akan kehidupan nyata mereka dan akan dengan segera “terpikat” dalam karakter buatan mereka sendiri. Mereka akan sangat “terikat” dengan dunia fantasi mereka, dan mereka akan mulai “membenci” realitas, dan hal itu bisa jadi menimbulkan “luka” dan “menyakiti” tidak hanya diri mereka sendiri, tapi juga keluarga, teman-teman, dan seluruh lingkungan sosial nyata yang mereka miliki. DAFTAR PUSTAKA Donath, Judith S. 1996. Identity and Deception in Virtual Community. MIT Media Lab. London: Routledge Turkle, Sherry. Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet. New York: Simon and Schuster http://les.man.ac.uk/cric/jason_rutter/papers/Self.pdfhttp://www.mala.bc.ca/~soules/CMC290/perform.htmhttp://www.rheingold.com/vc/book/2.htmlhttp://www.rider.edu/~suler/psycyber/identitymanage.htmlhttp://www.rider.edu/~suler/psycyber/textrel.htmlhttp://www.upenn.edu/gazette/0297/0297gaz2.html  | Muzik 1 | Jan 9, '08 7:30 AM for everyone |
Dijamin gak ngantuk | Metal VS Dugem | | Six A Six | | Project Pop | |
AKU BERSAJAK UNTUK MALAM
Aku bersajak untuk malam Dari segala keheningan yang menghadang Meski daya mulai hilang Aku sepi sunyi Embun, kabut dan uap Diam dan senyap hingga hampa Bahkan luka Aku bernyanyi dengan hati Aku bersajak dengan bijak Haruskah aku minta tolong pada jerit binatang malam Ah... malam Mengapa malam harus gelap Mengapa malam harus hitam Mengapa hidup harus hilang Aku bersajak untuk malam Meski angin tidak datang dan hewan tidak melantang
Nasib cerita rakyat di masa kini
Perkembangan teknologi telah memberi kontribusi besar terhadap perkembangan budaya. Mulai dari penemuan Guttenberg yang menyebabkan munculnya budaya cetak hingga munculnya internet yang memunculkan budaya cyber. Proses perkembangan teknologi berimbas pula pada proses pentransmisian pesan, adat, norma dan moral dalam suatu masyarakat, contohnya adalah cerita rakyat. Cerita rakyat yang mulanya hanya menyebar melalui mulut ke mulut, kini proses penyebarannya masuk ke media, terutama media elektronik. Tren yang berlaku saat ini adalah proses pengenalan kembali berbagai cerita rakyat pada program pertelevisian di Indonesia. Kalu kita lihat, TransTV memiliki Legenda, RCTI dengan Bawang Merah Bawang Putih, Indosiar Misteri Gunung Merapi dengan Mak Lampir nya dan Nyi Roro Kidul, dan termasuk berbagai urban legend yang sering muncul di tiap stasiun televisi. Tren ini sebenarnya bisa dibilang merupakan tren yang positif, yakni berusaha mengenalkan kembali berbagai kekayaan kebudayaan Indonesia. Ditambah lagi dengan seringkalinya berbagai cerita rakyat tersebut disetting dalam dunia modern seperti sekarang ini. Disamping itu tren ini juga menyebabkan bisnis animasi menjadi sukses dan booming. Teknik animasi memungkinkan tervisualisasikannya berbagai hewan-hewan legendaris, seperti ular besar, naga atau bisa saja membuat istana di awan. Namun penggunaan setting modern menjadikan cerita rakyat tersebut lebih tampak seperti realitas kehidupan nyata, bukannya legenda yang memiliki nilai kesakralan. Selain itu berbagai cerita yang dijadikan film tersebut tentu saja sudah dibumbui dan didramatisir oleh sang sutradara sehingga terkadang film tersebut telah melenceng dari cerita aslinya. Kalau hal ini tetap berlanjut, bisa jadi di masa depan masyarakat hanya akan mengetahui cerita rakyat versi sutradara, bukan versi aslinya. Liburan identik dengan piknik. Begitu juga dengan aku. Meskipun tanggal tua tapi aku anggap nggak ada masalah. Liburan natal kemarin pun aku gunakan untuk piknik dengan orang terdekat. Setelah bingung-bingung mikir cari tempat, akhirnya diputuskan untuk berpiknik di Pantai Kwaru. Pantai Kwaru berlokasi di Bantul Yogyakarta, 8 kilometer sebelah barat Pantai Samas atau sekitar 4-5 kilometer sebelah timur Pantai Pandansimo. Pantainya memiliki ciri khas pantai-pantai di selatan Pulau Jawa yakni berpasir hitam. Pantai ini ditumbuhi banyak sekali pohon cemara, sehingga kalau kepanasan bisa berteduh dibawahnya. Apalagi kalau sambil menikmati berbagai hidangan ikan laut segar yang bisa dipesan setiap saat di warung-warung setempat.
 Hari Raya Idul Adha telah datang. Selamat merayakannya bagi anda yang merayakan, dan tentu saja selamat makan sate sepuasnya bagi yang tidak punya pantangan. Ya, Idul Adha memang identik dengan sate dan makan besar, meski masih kalah dengan pamor makan besarnya Idul Fitri. Hal tersebut tidak salah, karena di pagi hari sebelum solat Idul Fitri, umat Islam disunahkan untuk puasa. Dan tentu saja sehabis solat yang menunggu adalah sate. Sate. Sebuah masakan dari daging yang diiris tidak terlalu tipis maupun terlalu tebal, dilumuri bumbu sesuai selera, ditusuk, lalu dipanggang, hmmm nyummy. Daging yang sedikit alot tapi empuk dan kenyal serta bumbu yang melumer di dalam mulut, wah bikin fly deh. Apalagi kalau yang makan orang yang punya darah tinggi, fly nya bisa kebablasan. Meski enak tetapi tidak boleh keenakan. Makan apapun tidak boleh terlalu banyak, secukupnya saja. Terlebih lagi sate, sudah mahal, bikin sakit lagi. Yang jelas sate is the best. Pokoke Mak Nyuss. SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA
| |